Kubertanya pada diri ini, apakah arti menyambut syawal, Jika dalam Ramadhan aku terlena
Alpa dengan kesenangan dunia. Antara Ramadhan dan syawal penuh rahmat penuh berkat
Adakah karena datangnya syawal. Bersama aku menyambut kemenangan. Benarkah aku sudah menang?
Layakkah aku mendabik dada. Lantang menyahut takbir yang menggema. Tkamu syawal sudah menjelma
Padahal Ramadhan yang pergi tak kusesali. Layakkah aku berpakaian baru
Sedangkan tiada pasti pakaianku di sana mungkin dari api
Layakkah aku menikmati, sedang tiada pasti makananku di sana mungkin dari duri
Sadarku mungkin terlambat Ramadhan tlah pergi dan aku pasti menanti selagi belum tertutup pintu taubat
Penuh tekad penuh janji, sabar menunggu Ramadhan kembali. Semoga bertemu bulan seribu rahmat
agar boleh aku kecap arti sebenarnya menyambut Syawal
(sebuah renungan)
“Seandainya setiap hamba mengetahui apa yang ada dalam bulan Ramdhan, maka umatku akan berharap sekamuinya setahun itu bulan Ramadhan” (HR. Ibnu Khuzaimah)
Bulan Ramadhan memang tidak mungkin berlangsung satu tahun, tetapi kesempatan untuk mendulang fahala tetap terbuka. Caranya, Ramadhankan hidup kamu. Pelihara supaya tensi ibadah tetap seperti ketika bulan Ramadhan. Kamu pasti bisa. (Buku “Ramadhankan Hidupmu” oleh Dr. Aidh bin Abdullah Al-Qarni). Saking rindunya dengan bulan Ramadhan Rasululloh dan para Shahabat menangis tersedu-sedu bila bulan mulia itu berlalu.
Dalam kenyataan tensi ibadah umat muslim dalam Ramadhan memang menarik , baik dari segi kualitas dan kuantitas. Dan diantara nama-nama yang indah yang disematkan bagi bulan Ramadhan adalah bulan latihan. Seyogyanya dengan telah berhasil menjalani latihan ketat selama satu bulan, maka keseharian kita seharusnya mirip seperti dalam suasana Ramadhan. Misalnya istiqomah qiyamul lail, rajin membaca al-Qur’an, gemar bersedekah, displin shalat berjama’ah di awal waktu, menghindari ghibah, senang bersilaturrahim, membiasakan makan bersama keluarga, banyak berdzikir, serta memanfaatkan waktu dengan amalan positif. Tentang yang terakhir, dalam surat Al-Mukminun ayat 23 Alloh SWT menggambarkan bahwa begitu cepat umur dan hari berlalu, serta jawaban dari orang-orang yang menghabiskan umurnya dengan bermain-main dan perbuatan yang sia-sia di hari kiamat nanti. Alloh bertanya, ‘berapa tahun kamu tinggal di bumi?’ mereka menjawab, ‘kami tinggal di bumi sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung. “Alloh berfirman, ‘kamu tidak tinggal di bumi melainkan sebentar saja, kalau kamu mengetahui’. Maka apakah kamu mengira Kami menciptakan kamu secara main-main dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?’. Baca Lanjutannya…
Komentar Terakhir