Oleh: risars | 17 Maret 2010

Ramadhankan Hari-hari Kita

Kubertanya pada diri ini, apakah arti menyambut syawal, Jika dalam Ramadhan aku terlena

Alpa dengan kesenangan dunia. Antara Ramadhan dan syawal penuh rahmat penuh berkat

Adakah karena datangnya syawal. Bersama aku menyambut kemenangan. Benarkah aku sudah menang?

Layakkah aku mendabik dada. Lantang menyahut takbir yang menggema. Tkamu syawal sudah menjelma

Padahal Ramadhan yang pergi tak kusesali. Layakkah aku berpakaian baru

Sedangkan tiada pasti pakaianku di sana mungkin dari api

Layakkah aku menikmati, sedang tiada pasti makananku di sana mungkin dari duri

Sadarku mungkin terlambat Ramadhan tlah pergi dan aku pasti menanti selagi belum tertutup pintu taubat

Penuh tekad penuh janji, sabar menunggu Ramadhan kembali. Semoga bertemu bulan seribu rahmat

agar boleh aku kecap arti sebenarnya menyambut Syawal

(sebuah renungan)

“Seandainya setiap hamba mengetahui apa yang ada dalam bulan Ramdhan, maka umatku akan berharap sekamuinya setahun itu bulan Ramadhan” (HR. Ibnu Khuzaimah)

Bulan Ramadhan memang tidak mungkin berlangsung satu tahun, tetapi kesempatan untuk mendulang fahala tetap terbuka. Caranya, Ramadhankan hidup kamu. Pelihara supaya tensi ibadah tetap seperti ketika bulan Ramadhan. Kamu pasti bisa. (Buku “Ramadhankan Hidupmu” oleh Dr. Aidh bin Abdullah Al-Qarni). Saking rindunya dengan bulan Ramadhan Rasululloh dan para Shahabat menangis tersedu-sedu bila bulan mulia itu berlalu.

Dalam kenyataan tensi ibadah umat muslim dalam Ramadhan memang menarik , baik dari segi kualitas dan kuantitas. Dan diantara nama-nama yang indah yang disematkan bagi bulan Ramadhan adalah bulan latihan. Seyogyanya dengan telah berhasil menjalani latihan ketat selama satu bulan, maka keseharian kita seharusnya  mirip seperti dalam suasana Ramadhan. Misalnya istiqomah qiyamul lail, rajin membaca al-Qur’an, gemar bersedekah, displin shalat berjama’ah di awal waktu, menghindari ghibah, senang bersilaturrahim,  membiasakan makan bersama keluarga, banyak berdzikir, serta memanfaatkan waktu dengan amalan positif. Tentang yang terakhir, dalam surat Al-Mukminun ayat 23 Alloh SWT menggambarkan bahwa begitu cepat umur dan hari berlalu,  serta jawaban dari orang-orang yang menghabiskan umurnya dengan bermain-main dan perbuatan yang sia-sia di hari kiamat nanti.  Alloh bertanya, ‘berapa tahun kamu tinggal di bumi?’ mereka menjawab, ‘kami tinggal di bumi sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung. “Alloh berfirman, ‘kamu tidak tinggal di bumi melainkan sebentar saja, kalau kamu mengetahui’.  Maka apakah kamu mengira Kami menciptakan kamu secara main-main dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?’.Selanjutnya

Umur bagaikan mutiara, orang yang menghabiskan waktunya untuk mentaati Alloh, maka akan mendapatkan mutiara tersebut. Dia akan mendapatkannya pada hari dimana harta dan anak tidak lagi berguna. Hanya orang berhati bersih yang selamat di sisi-Nya. Antara lain kisah Aidh Al-Qorni, kaum salaf selalu  memelihara waktu dengan baik. Masya Alloh simak antara lain kisah Junaid bin Muhammad tetap meluangkan waktu untuk membaca Al-Qur’an kendati kematian sudah di depan mata. Anaknya berkata, ‘Ayah telah mengorbankan jiwa raga ayah’. Jawabnya, ‘Aku adalah orang yang merasa harus paling banyak berkorban:. Aswad bin Yazid menghabiskan malam dengan qiyamul lail, shahabatnya memberi saran, ‘sebaiknya kamu beristirahat sebentar’. Dia menjawab, ‘aku  hanya ingin beristirahat di akhirat’.  Subhanalloh…..

Seorang ulama besar di Saudi pernah memberikan saran katanya, ‘setelah shalat subuh adalah waktu yang kondusif untuk menghafal dan membaca AL-Qur’an, berdzikir dan bertafakur. Sejak matahari meninggi hingga waktu dzuhur adalah waktu yang tepat untuk mencari rizki, berdagang, dan menuntut ilmu, setelah sholat dzuhur adalah waktu yang cocok untuk menuntut ilmu dengan membaca-baca buku umum ataupun sejarah. Setelah sholat ashar adalah waktu yang pas untuk pergi ke perpustakaan, menggali potensi, atau memecahkan masalah. Setelah sholat maghrib adalah waktu yang tepat untuk mengunjungi sodara. Sedangkan selepas sholat isya adalah waktu yang tepat untuk keluarga lalu tidur. Di akhir malam bangun untuk mendirikan sholat tahajud.

Insya Alloh jika setiap muslim berdisiplin ketat memanfaatkan keseharian waktunya untuk kegiatan bermanfaat, maka dapat dipastikan masyarakat serta Negara kita akan terhindar dari gejolak atau bencana yang tengah melanda tanah air kita sekarang ini.  So, sobat-sobat Inspirasi, yu Ramadhan setiap detik yang kita lewati…..

(Dari berbagai sumber. RRS)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Kalender Hijriyah

%d blogger menyukai ini: